Perbincangan bersama Lee Kang Hyun,. "Saya Separuh Korea, Separuh Indonesia"

Kenalkah anda dengan lelaki ini? Anda mungkin mengira ia adalah salah satu aktor Korea..Hehehe..
Bukan , Dia bukan aktor Korea, tapi dia adalah Direktur PT Samsung Electronics Indonesia. Namanya Lee Kang Hyun. Mari kita mengenalnya lebih jauh..
 
JEON JUE. Sebuah kota di Korea yang mempunyai peran penting dalam sejarah negara semenanjung itu. Kota yang tak bakal hilang dari kenangan Lee Kang Hyun, Direktur PT Samsung Electronics Indonesia. Banyak peristiwa yang tertoreh dalam hidupnya, bermula di sana. Lee, bukan dari keluarga yang berkecukupan, meskipun ayahnya Lee Ki Hwan adalah mantan petenis nasional Korea. Namun, aktivitas ayahnya kemudian beralih dan olah raga ke persoalan politik ia pun pernah memimpin serikat buruh. 'Masa kecil saya kacau karena bapak ikut politik dan dia keluar-masuk penjara, "kata Pria kelahiran Korea, 16 Ju1i 1966 ini; berkisah. Tak ayal kesulitan ekonomi pun mendera keluarganya

Lee ingat, bagaimana ia, ibu dan kedua kakaknya tinggal dalam satu kamar. Makan pun sulit. 'Waktu SD, saya pernah diusir dari sekolah karena tidak ada biaya. Padahal itu sudah sekolah untuk anak miskin", ujar Pria bertinggi badan 180 cm dan berat tubuh 90 kg ini. Itu sebabnya, Lee kecil pernah merasakan bekerja sebagai penjual Koran dan penyemir sepatu.

Jiwanya sangat terguncang, saat usia sembilan tahun, ibu yang sangat dikasihinya itu menghembuskan napas terakhir. `Ibu sakit ia bekerja terlalu keras untuk menghidupi keluarga karena ayah di penjara dan depresi", kata Lee Kang Hyun. Pandangannya menerawang, seolah ingin menggali rasa pedih masa silam.

Kesulitan yang mencambuknya, tak membuat ia memendam dendam pada ayahnya "Saya justru bangga pada bapak saya, karena dia orang penting. Kalau tidak ada rasa bangga kepada bapak, mungkin saya dan kakak-kakak saya tidak bisa hidup", kata dia, getir. Itu membuatnya ia bekerja sedemikian keras, tidak ada waktu untuk bermanja-manja Lee sangat tidak ingin dikasihani orang.

"Itu yang membuat saya jadi keras. Saya harus jadi orang besar. Saya harus jadi pemimpin. Dan, saya harus membanggakan orang tua. Cara hidup waktu kecil saya itu yang membuat saya terbiasa mandiri dan meyakini untuk mendapatkan sesuatu harus dengan usaha keras," kata alumnus Economic Management Universitas Hankuk, Korea (1991) dan mendalami E-commerce di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Amerika Serikat (2000) ini. "Semua kepahitan dalam hidup saya menjadi obat saya menjalani kehidupan selanjutnya, "kata ayah Lee Bonny (11 tahun) dan Lee Boran (5 tahun) ini.

Kisah ituau diceritakan Lee Kong Hyun, satu pagi di rumah yang asri di bilangan Ciasem, Kebayoran baru Jakarta Selatan. Lelaki yang pernah mengikuti wajib militer di Korea itu menyadari bahwa sejatinya manusia diciptakan sama. Semangatnya saja yang berbeda-beda. Itu sebabnya, ia tak pernah membedakan orang berdasarkan posisi dan jabatannya "Saya bisa bergaul dekat dengan karyawan di pabrik Samsung", kata suami Yuluani Sandra ini.

Hari itu penggemar golf ini, nampak santai. Kaos biru seragam kesebelasan Chelsea dengan tulisan: Samsung, ia kenakan. Tentang nomor delapan yang menghiasai bagian punggungnya, tak berarti ia ingin menggantikan posisi pemain yang memperkuat Chelsea, Frank Lampard, yang identik dengan nomor tersebut. "Saya tidak tahu nomor favorit, saya tinggal pakai, "kata Lee sembari terbahak.

Toh, sesungguhnya ia menyukai kesebelasan Manchester United (MU), hanya karena seorang Karena bermain di sana, Park Ji Sung "Yang bisa dibanggakan dari orang Korea adalah nasionalismenya "katanya sembari menambahkan mungkin kadang nampak berlebihan.

Petinggi di Samsung Indonesia itu, kemudian dengan terbuka mengungkapkan bisnis elektronik di Indonesia, keinginannya untuk mundur dari posisinya sekarang, hingga perjalanan hidup beragamanya sebagai pemeluk Islam. 


Bagaimana kabar Samsung sekarang?
Samsung di dunia sudah semakin dikenal, ha-ha-ha. Di Indonesia, customer Samsung dalam satu dan dua tahun ini semakin bertambah, hal ini tentu karena informasi dari Eropa dan Amerika. Di kedua wilayah itu, produk Samsung mulai diakui. Namun, sayangnya di sini masih banyak penyelundupan (barang elektronik-red), walau demikian, posisi Samsung cukup tinggi karena kami mengusahakan Samsung menjadi premium brand. Jadi, costumer bisa melihat itu.

Produk elektronik buatan Korea, Cina, Jepang, dan Indonesia nampaknya semakin ketat merebutt pasar. Betul?
Semua produk itu mencari spesifikasi segmennya. Misalkan, meskipun produk Cina membanjiri pasar tapi tidak bisa menjadi kompetitor kita, karena Samsung mengarahkan pada prestige and high market. Sedangkan di lower, diambil oleh produk lokal dan Cina.

Memang persaingannya sangat ketat, tapi kami tidak akan khawatir karena dalam dua tahun terakhir, produk-produk elektronik Samsung menunjukkan dirinya bukan second label lagi, tapi produk unggul. Contohnya, bisa disebut plasma TV dan LCD identik dengan Samsung Meskipun, kita pun tengah berusaha masuk ke lower market, misalkan dengan handbhone Samsung yang harganya di bawah Rp 1 juta.

Sesungguhnya yang paling ditawarkan Samsung dari sisi teknologi atau desain?
Tentu yang paling penting dari sebuah usaha industri elektronik adalah teknologinya. Menurut saya, yang utama teknologi, kemudian brand, dan terakhir desain. Saya yakin, di tahun ini Samsung bisa menjadi nomor dua untuk produsen elektronik.

Market di Indonesia sedemikian besarkah?
Di sini benar-benar potensial market, khususnya untuk telekomunikasi. Bayangkan saja, tiap tahun konsumennya bisa naik 20 persen. Meskipun sejak kenaikan BBM (bahan bakar minyak red), ekonomi Indonesia menjadi sangat terpuruk, daya beli masyarakat sangat lemah. 


Lantas?
Namun, Samsung masih optimis menganggap Indonesia menjadi pacar yang sangat potensial. Ini potensial market terbesar setelah Cina dan India. Meskipun tidak bisa cepat-cepat, harus pelan-pelan.

Mengapa demikian?
Pemerintah ini nampak sangat berusaha keras menghapus KKN. Dengan diangkatnya orang-orang yang bersih dan tegas, misalkan sebagai Dirjen Pajak dan Diijen Bea Cukai maka akan sangat membantu dunia industri di sini. Saya percaya, Indonesia akan berubah.

Sebagai Ketua Gabungan Elektronika Indonesia, apa yang Anda usulkan kepada pemerintah?
Base product Indonesia untuk ekspor tidak begitu unggul. Itu sebabnya saya mengajukan ke pemerintah, bagaimana caranya kita menarik investor baru atau yang ada di Indonesia. Karena makin hari, makin bagus bisnis elektronika di Indonesia. Kalau tidak dilakukan, investor tidak masuk, ekspor tidak jalan, masa depan akan gelap.

Persoalan kebijakan politik dan industri sangat erat, ya?
Ya, bukan hanya di Indonesia tapi di semua negara.

Logikanya, semakin stabil politiknya, makes industri akan berkembang baik.
Betul sekali. Tapi yang paling penting "bersih". Indonesia itu sudah terlalu lama terjebak KKN, jadi kalau nggak korupsi rasanya aneh, ha-ha-ha...

Pernyataan Anda sangat menarik.
Indonesia mengalami masa transisi. Jadi para pejabat jangan ragu-ragu menjadi "bersih". Perlu leadership yang cukup serta hukum yang tegas sehingga akan benar-benar mempengaruhi keadaan ekonomi. Pertama kali pasti yang pernah menikmati kebusukan itu akan kecewa dan kacau, tapi makin lama ekonomi negara bisa menjadi stabil dan membaik. Ingat, Indonesia itu potensial country dengan kekayaan alam manusia yang begitu banyak. Kalau dilihat dari mata luar, sayang sekali tidak bisa menggarapnya dengan baik, mungkin persoalan sumber dayanya saja.

Bagaimana Samsung memperlakukan karyawannya?
Tidak pernah ada masalah karena itu. Dalam falsafah Samsung, tidak ada serikat buruh. Tapi kami akan terus berusaha memberikan kebijakan, fasilitas, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh karyawan. Sehingga mereka tidak pernah komplain.

Kalaupun ada masalah, kita bereskan secara internal antara manajemen, dan karyawan, itu ada jalurnya. Waktu itu ada undang-undang di Indonesia bahwa harus ada serikat pekerja di tiap perusahaan, saya sempat adu argumentasi dengan Fahmi Idris (saat itu Menteri Tenaga Kerja-red). Kalau di pabrik kita di Karawang terdapat sekitar 2.000 karyawan dan mereka menikmati lingkungan pekerjaan yang bersih, semua fasilitas lengkap, dan gaji juga bagus. Lantas, mengapa diharuskan peraturan itu?

Karyawan Indonesia menurut Anda bagaimana?
Masalah buruh di Indonesia tak jadi masalah bila dibandingkan dengan di negara-negara lain. Di sini, buruh-buruh itu benar-benar baik. Yang paling penting transparansi kepada mereka. Pengusaha juga harus fair. Ada pengusaha yang begitu kaya raya, ngomong perusahaannya bangkrut dan bisa bilang tidak ada uang untuk karyawannya. Gila kan? Ha-ha-ha.

Sense of humor Anda oke juga. Bahkan, Anda kerap melemparkan joke di beberapa presentasi.
Ha-ha-ha. Saya ini tipe pekerja keras, jadi kalau saya nggak ada joke, siapa mau mendekati saya. Jadi ada plus dan minusnya. Saya juga orang yang cukup keras, untuk melihat kondisi ekonomi atau kebijakan pemerintah. Saya mungkin satu-satunya orang asing yang keras dan vokal. Nanti, kalau saya nggak campur antara serius dan humor, saya bisa susah juga.

Nah, kalau saat presentasi saya bicara terus tentang Samsung, peserta presentasi pasti bosan atau malah sulit menerimanya. Jadi, kadang waktu presentasi, saya bisa sambil melempar handphone. Pokoknya, biar mereka bisa menerima lebih gampang.

Trik seperti itu apakah dipelajari?
Nggak. Mungkin mikir sendiri, ha-ha-ha. Presentasi serius itu pasti membosankan.

Saat akhir pekan, apa yang biasa Anda lakukan bersama keluarga?
Saya sering business trip, dalam satu bulan bisa 10 atau 15 hari ke luar negeri atau ke daerah, karena harus keliling meninjau market. Jadi, kalau saya ada di Jakarta, pada Sabtu, saya perlukan untuk main golf dengan rekan bisnis, dan Minggu saya dengan keluarga, bisa main golf juga, main boling, atau jalan-jalan ke department store.

Apakah keluarga bisa menerima kesibukan Anda?
Mereka mungkin pada awalnya agak susah menerima saya yang sibuk, tapi akhirnya mereka bisa mengerti dan bisa menyesuaikan waktunya.

Dengan kesibukan itu, bagaimana Anda bisa memberikan nilai-nilai pada istri dan anak-anak?
Saya akui, hal itu memang kurang, tapi saya yakin masa depan keluarga kami masih panjang Jadi waktu sulit ada, nanti ada pula waktu sebalilmya. Istri saya pun mungkin sudah menerima keadaan ini, meskipun dulunya pernah bertanya, "Pikiran kamu pada keluarga berapa persen?" Saya jawab "50 persen". Dia bilang bohong, orang Korea itu biasanya 50 persen berpikir untuk negara dan perusahaan. Ha-ha-ha.

Jadi istri saya bilang, bahwa yang 50 persen itu negara dan Samsung, sisanya, 20 persen untuk kelompok orang Korea yang tinggal di Indonesia yang membutuhkan saya. Walaupun saya bukan Duta Besar Korea, tapi saya sering membantu kesulitan yang dihadapi orang Korea di sini. Kemudian, 20 persen lagi untuk Indonesia dengan aktivitas yang banyak misalkan dengan ikut perkumpulan-perkumpulan atau organisasi. Dan, yang sisa 10 persen, itu baru untuk keluarga. Kalau berhitung dengan angka, keluarga mungkin hanya beberapa orang, tidak sebanyak negara, jadi 10 persen saja sudah alhamdulillah, ha-ha ha 

Tapi itu betul?
Itu benar. Cara berpikir orang Korea memang begitu. Negara Korea itu kecil, miskin sumber daya, susah, tidak banyak hasil bumi, punya empat musim yang menyulitkan. Jadi kalau kita tidak kerja keras tidak bisa hidup. Hal itu membentuk nasionalisme kami sangat kuat. Jadi tidak salah kalau orang Korea itu yang dipikirkan pertama itu negara, kemudian bangsa. Lalu, baru urutan selanjutnya perusahaan, kemudian keluarga, dan terakhir diri sendiri. Ini sudah kebiasaan.

Bahasa Indonesia Anda sangat baik. Cukup lama mempelajarinya?
Nggak begitu lama. Masuk ke sebuah bisnis di negara tertentu, harus menguasai bahasa negara tersebut, itu memang kebijakan dari headquarter. Selain itu juga harus mempelajari kebudayaan negara itu. Dan, ternyata dengan menguasai bahasa Indonesia, komunikasi saya dengan para karyawan berlangsung baik.

Kebetulan lagi saya menikah dengan orang Indonesia, sehingga saya juga bisa memahami cara berpikir orang Indonesia. Semuanya menjadi lebih gampang. Saya ingin menjadi jembatan bagi kebudayaan, ekonomi, dan mungkin politik Korea dan Indonesia. Saya tahu dua-duanya. Saya kadang ditanya, orang Korea atau Indonesia, saya bilang separuh-separuh, ha-ha-ha.

Apakah Anda terganggu dengan hal itu?
Karena terlalu lama di sini sehingga separuh Indonesianya lebih banyak. Saya pikir perlu kembali ke Korea untuk refresh lagi.

Apakah ada kesulitan dari sisi budaya dan psikologis, menikah dengan orang dari bangsa yang berbeda?
Ha-ha-ha, tidak juga. Dia sedang hamil anak saya ketiga. Istri saya setelah menikah dengan saya, dia sudah mulai belajar bahasa Korea, cukup menguasai sebagai orang asing, karena bahasa Korea juga sulit, lo. Dan sekarang, istri saya sudah mengajar bahasa Korea di Universitas Indonesia.

Dua anak Anda lelaki semua.
Ya. Kalau yang keluar nanti laki-laki juga, hancur kita, ha-ha-ha. Harusnya sih perempuan, ha-ha-ha.

Anda masih sempat membaca?
Sekarang saya sedang membaca lagi buku-buku marketing. Waktunya sudah terlalu sempit jadi agak susah menemukan waktu untuk membaca, tapi biasanya di dalam pesawat. (Bonny: `Atau di dalam toilet", Lee: Ha-ha-ha).


Soal kehidupan keagamaan Anda bagaimana?
Di Korea sebetulnya mayoritas masyarakat tidak memikirkan agama, karena mungkin hidupnya terlalu sulit, sehingga tidak ada yang memikirkan agama. Sebelum meninggal mungkin baru mencari agama. Jadi hidup ini dulu, agama kemudian.

Sekitar 10 tahun pria kelahiran Seoul Korea Selatan ini telah menjadi Muslim. Dan sepanjang waktu itu pula, dia merasa dorongan untuk beramal kian membesar.
Di tengah kesibukan sebagai orang nomor satu di perusahaan elektronik papan atas ini, ia menyempatkan diri untuk mengajarkan Islam pada kedua anaknya. “Kegiatan itu cukup menyita waktu. Namun dengan demikian, sekaligus akan berarti saya juga terus belajar tentang Islam,” bilang Lee.
Mulai tertarik Islam sejak bersahabat dengan orang Indonesia pada penghujung 1980-an, Lee beruntung memiliki ayah mertua yang cukup banyak mengetahui Islam. Maka korespodensi hingga diskusi soal agama selalu mengisi waktunya bila dia bertemu mertua. Kesan Islam sebagai agama damai, menurut Lee, dia dapatkan saat mulai lebih banyak belajar tentang Indonesia. Semakin dia ingin mengetahui soal Indonesia, kian terasakan betapa bangsa ini merupakan komunitas yang beragam namun memiliki semangat bersama dan saling berbagi.
Lee menjadi lebih dalam memperhatikan Islam, setelah dia mengenal keluarga Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI, yang dilihatnya amat tekun beribadah. Yang dia ingat, bapak angkatnya itu selalu menjalankan shalat tepat waktu, dan membaca Alquran usai shalat. “Selesai shalat atau membaca Quran, bapak itu rona mukanya terlihat amat segar dan tenang. Sepertinya membaca Alquran itu sebagai obat. Paling tidak obat stress karena pekerjaan,” kenang Lee.
Sejak 1988, Lee memang sering bertandang ke Indonesia. Awalnya kedatangan itu karena korespondensi dengan tamannya yang kebetulan mahasiswa Universitas Indonesia. Dia bahkan sempat tinggal beberapa minggu di rumah karibnya itu, Novianto. Dari persahabatan itu, dan pengalamannya mendatangi sejumlah tempat di Indonesia, keramahan dan keakraban masyarakat Indonesia amat membekas di dalam hatinya.
Situasi ini diakuinya, seperti kondisi Korea Selatan pada era 1970-an, saat ia masih anak-anak. Ketertarikannya kepada kehidupan masyarakat Indonesia yang kemudian semakin membuatnya tertarik ingin lebih tahu agama paling besar di sini, Islam.
Lee tak menyangka jika di kemudian hari, kedekatan batinnya dengan Indonesia mengantarnya untuk menduduki posisinya sekarang. Usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Hankuk University Korea Selatan pada 1991, dia kemudian bergabung dengan perusahaan elektronik terbesar di negaranya, Samsung.
Dua tahun menekuni bidang ekspor, diapun mendapat promosi jabatan. Karena dinilai banyak mengetahui Indonesia, maka penugasan berikutnya yang membawanya kembali ke Indonesia pada 1993. “Saat itu adalah kali kedelapan saya ke Indonesia. Walaupun senang tapi tak terlalu surprise,” ujarnya.
Namun, lanjut pria ini, pada kesempatan ke Indonesia yang kedelapan itu dirinya memiliki beban psikologis lebih tinggi. Kalau sebelumnya, datang ke Indonesia karena berlibur dan belajar banyak hal, pada 1993 dia datang ke Indonesia dengan tanggung jawab lebih besar. Ini karena Lee ditunjuk sebagai Menejer Ekspor-Impor di PT Samsung Electronic Indonesia.
Walaupun berurusan dengan soal ekspor-impor, Lee juga mencoba dekat dengan para karyawannya. Terutama, ia ingin mendorong etos kerja buruh menjadi lebih baik. Ia pun menjadi ‘pengamat’. Dilihatnya, terdapat korelasi signifikan antara agama dengan prestasi kerja. “Mereka yang tekun dan disiplin shalat ternyata adalah karyawan yang bisa berprestasi,” ujarnya.
Maka rasa ketertarikan kepada Islam pun kian menari dalam sanubarinya. Diakuinya pula, keinginan memeluk Agama Illahi yang paling sempurna itu juga karena keinginan lebih dekat dengan lebih 2.000 karyawan di pabrik Samsung di Cikarang Jawa Barat. “Bukan karena unsur lain. Tapi memang kalau saja saya Islam, maka bila harus menyatukan diri dengan para karyawan, saya bakal lebih diterima. Namun intinya bukan karena mayoritas Islam terus saya jadi Islam. Bukan karena itu,” tegasnya.
Pria kelahiran 16 Juli 1966 ini mengaku sempat gamang dalam perjalanan menemukan kebenaran Islam. Perasaan itu justru kian menjadi setelah keinginannya memeluk Islam kian besar.
Beruntung, ia mendapat teman diskusi yang mumpuni, salah satunya Roshim Hamzah, mantan pejabat BNI yang berdarah Aceh. “Pak Roshim tak pernah memaksakan kehendak. Dia malah lebih banyak hanya memberi contoh bagaimana bisa taat beragama dengan tetap bisa berkarya secara profesional,” kenang Lee. Maka belum setahun berkarya di Indonesia keputusan berislam pun diputuskan. Pada tahun 1994, Lee Kang Hyun resmi memeluk Islam setelah bersyahadat di Masjid Sunda Kelapa Jakarta.
Sebagai Muslim, ia mengaku masih banyak ‘bolong’-nya. Diakuinya, belum semua ketentuan waktu shalat diikutinya. “Tapi setiap hari saya pasti shalat, walaupun memang belum lima waktu.” Shubuh adalah waktu shalat yang paling sering terlewatkan. Soalnya kebiasan tidur menjelang fajar menjadikan sulitnya dia terbangun di pagi hari.
Soal larangan mengonsumsi daging babi, menurut Lee, amat mudah dia tinggalkan selekas masuk Islam. Namun soal minuman beralkohol, belum sepenuhnya ditinggalkan, terutama saat ‘pulang kampung’ ke Korea. “Minum Soju itu identik dengan budaya Korea dan rasa penghormatan terhadap semasa manusia. Maka jujur saja, saya belum bisa mencari jalan keluar untuk meninggalkan budaya itu. Tapi suatu saat saya yakin bisa,” ujarnya. Asal tahu saja, di Korea, Islam masih dianggap sebagai sekte aneh’.
Dua tahun ber-Islam, Lee mengaku mendapat berkah paling besar dengan menemukan jodohnya, wanita asal Sumedang, Jawa Barat. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki, Bonny Lee (7) dan Boran Lee (2). Seiring pertumbuhan buah hatinya, ia makin terketuk untuk makin mendalami Islam. “Soalnya bagaimana saya bisa mendidik anak dalam soal agama dengan baik, kalau saya sendiri pengetahuan Islamnya masih perlu diperdalam,” katanya.
Maka Allah pun memberi jalan mudah. Sang ayah mertua merelakan waktunya untuk berbagi pengetahuan Islam kepada menantunya yang masih berbangsa Korea ini. Sekarang, setiap Sabtu, dia selalu menerima surat dari ayah mertuanya yang berisikan topik bahasan Islam. “Selain surat, ayah sering mengirimkan pula data-data dan dokumen lain soal Islam. Lalu saya selalu meluangkan waktu untuk mendiskusikannya dengan Bonny, yang sekarang mulai besar,” ceritanya.
Seiring dengan perjalanan karier Lee yang terus menanjak, hingga sekarang dipercaya menempati posisi Direktur PT Samsung Eelectronic Indonesia, kebiasaan ‘menyebar’ uang dan berbagi rezeki kepada kaum dhuafa terus menjadi kesehariannya. Namun ia menolak membicarakan hal itu. “Saya hanya ingin berbagi dan mendidik anak-anak supaya tahu kewajiban saling membantu sesama,” tukasnya. Satu lagi yang masih menjadi cita-citanya, pergi ke Tanah Suci untuk berhaji. “Saya ingin ke Mekkah untuk berhaji. Tapi sampai sekarang belum mendapat izin cuti lebih sebulan,” tuturnya.
Apakah sekarang Anda merasa sudah menjadi muslim yang baik?
Belum. Saya kadang masih minum soju (minuman keras khas Korea-red) bersama teman-teman saya. Tapi, itu kebudayaan. Agama dan kebudayaan beda, saya masih minum soju, yang mungkin batalkan ajaran muslim. Jadi, saya belum mengikuti 100 persen. Tapi, saya terus belajar.

Apakah Anda punya nama muslim?
Ya, nama muslim saya Muhammad Ali Hamzah. Jadi, banyak orang yang jugs. memanggil saya, Hamzah. Termasuk Krisdayanti dan Anang Dan anak saya (Bonny-red) belajar bahasa Korea, Inggris, Indonesia, dan Arab. Jadi, dia sering mengetes saya Bahasa Arab, ha-ha-ha. Saya kalah dari dia di situ.

Dari pengalaman hidup Anda, apa yang bisa Anda petik?
Yang paling utama adalah kejujuran. Karena kalau tidak jujur, apa saja nggak bisa dikerjakan. Jujur berarti bisa mencari solusi. Dan, yang kedua saya lupakan kata mustahil. Jadi, nothing imposible.

Anda terhitung sangat berhasil, dalam karier di usia 40 tahun ini sudah mencapai top posisi.
Di Korea, orang-orang melihat saya tidak berbeda dulu dan sekarang.  Saya dari nol,  saya sendiri yang bikin tidak nol. Nol, bukan berarti "nol", karena dibelakangnya ada banyak hal, mulai dari pengaruh orangtua dan lingkungan. Saya bisa sukses bukan karena saya sendiri, ada yang membantu, antara lain masyarakat. Jadi, keuntungan yang saya peroleh harus saya kembalikan ke masyarakat dan negara.

Prinsip Anda sebagai Direktur Samsung Indonesia?
Ada tiga prinsip. Cepat, tepat, dan bertanggung jawab. Apapun itu kita harus memutuskan cepat dan tepat serta bertanggung jawab melaksanakan keputusan itu. Pertanggungjawaban itu termasuk juga harus sadar waktu mundur. Kalau tidak sadar waktu mundur, pasti nanti diinjak. Itu sebabnya saya sejak tiga tahun lalu sudah minta terus ke headquarter Samsung untuk mundur, tapi belum dikabulkan, ha-ha-ha.

Penghargaan yang paling membanggakan?
Pada 2004, saya menjadi karyawan terbaik Samsung dari 160 ribu karyawan Samsung Group yang tersebar di seluruh dunia. Itu kebanggan seumur hidup, karena di Korea, Samsung nomor dan paling elit, nah dari tempat nomor satu itu, saya menjadi karyawan yang nomor satu.

Apakah makanan Indonesia yang Anda gemari?
Banyak, ada gado-gado, rujak, pempek, tempe, tahu, nasi goreng. Tapi yang paling saya suka, makanan Sunda. Saya suka lalapan daun pohpohan yang dimakan dengan sambal, plus ayam goreng. Makanan Sunda itu paling dekat dengan rasa makanan Korea.

Anda bisa berenang?
Tidak bisa, ha-ha-ha. Karena waktu kecil, saya tidak punya uang untuk bayar berenang di kolam renang Jadi sampai sekarang nggak bisa berenang. Sekarang memang bisa diajarin, tapi sudah malas, ha-ha-ha.

Bagaimana dengan sepak bola ?
Saya agak bingung. Rasa nasionalisme saya mendukung Park Ji Sung yang bermain di Manchester United, tapi Samsung sponsori Chelsea yang tidak ada pemain Korea, ha-ha-ha. (Baca : MU Vs Chelsea).
 
BioData
Nama: Lee Kang Hyun
Tempat tanggal lahir: Seoul, 16 Juli 1966
Status pernikahan : Menikah dengan dua anak
Pendidikan
* 1991: Sarjana Manajemen Ekonomi Hankuk University (Korea),
* 2000: Mendalami E-commerce di Carnegie Mellon University, Pittsburgh – USA
Pengalaman kerja:
* 1986 – 1988 : Military training requirement
* 1991 : Samsung Electronics, Ltd (Export Team Audio-Video)
* 1993 : manajer ekspor-impor Samsung Electronics Indonesia
* 1998 – 2002 : Export-Import, Project General Manager
* 1999 – 2002 : General manager marketing Samsung Electronics Indonesia
* 2003 – sekarang : Direktur Samsung Electronics Indonesia (marketting,Jakarta)

Sumber: Majalah Manly
@IniSajaMo




Comments