
Penyair Yang Teringat Menjelang Musim Gugur
Tanggal 7 September lalu dijuluki sebagai 'Baekro' yang berarti 'berembun putih'. Jika hari 'Baekro' tiba, nuansa musim gugur cukup penuh, maka masyarakat Korea juga mulai menikmati nuansa musim gugur secukupnya. Hari 'Baekro' tahun ini tepat dengan genap 110 tahun kelahiran penyair Kim So-wol yang paling dicintai oleh orang Korea.
110 Tahun Lalu, Kim So-wol Lahir
Nama asli Kim So-wol yang lahir pada tanggal 7 September 1902 di provinsi Pyeongan Utara adalah Jeong-sik. Setelah kehilangan ayahnya yang mengalami penyakit mental akibat kekerasan tentara Jepang saat dia masih berusia 2 tahun, Kim So-wol tumbuh di bawah bimbingan kakeknya.
Peristiwa yang mana membuat siswa-siswa yang biasa Kim Jeong-sik berubah sebagai penyair Kim So-wol terjadi saat dia duduk di bangku SMP Osan. Pada tahun 1915, Kim So-wol bertemu dengan gurunya -Kim Eok. Kim Eok yang mulai menampilkan karya syair menjelang usia 20 tahun membuat buku syair pertama Korea dengan menerjemahkan syair dari Jerman. Selain itu, dia berpengaruh besar pada pembentukan gaya syair modern Korea lewat penerbitan buku syair yang diciptakan pada tahun 1923. Dengan kata lain, saat Kim Eok mulai berkarir sebagai guru di SMP Osan, Kim Jeong-sik baru masuk sekolah tersebut, sehingga mulai membuat syair di bawah bimbingan Kim Eok. Akhirnya, Kim Jeong-sik berhasil melakukan debutnya sebagai penyair pada tahun 1920.
Membuat Karya Terunggul Yang Menorehkan Tinta Emas Dalam Sejarah Sastra Korea
Setelah itu, Kim Jeong-sik menampilkan karya dengan nama So-wol, dan mulai mendapat banyak sorotan lewat syair berjudul 'Pada Suatu Hari' yang mengungkapkan cinta abadi. Setelah itu, Kim So-wol mendapat perhatian lebih besar lewat sejumlah syair yang tercantum dalam majalah sastra pada tahun 1922. Khususnya, 'bunga ajalea' dianggap sebagai karya yang mewaklinya.
Saat anda meninggalkan aku karena jemu dengan aku, aku membiarkan anda pergi.
Aku akan menaburkan bunga ajalea di jalan yang anda tapaki.
Tolong injakkan kaki pada jalan yang dihiasi bunga.
Aku tidak akan meneteskan air mata saat anda meninggalkan aku karena jemu dengan aku...
Syair itu mengungkapkan cinta terhadap kekasih dan mengontrol perasaan mengenai perpisahan. Kim So-wol yang baru memasuki usia 20-an tahun menerima tradisi lagu rakyat saat membuat karya sastra, sehingga mampu mengungkapkan perasaan dan keluh kesah bangsa Korea dengan indah. Irama dan perasaan yang tercantum dalam karyanya cukup menghanyutkan hati masyarakat Korea, sehingga masyarakat Korea menjuluki Kim So-wol sebagai penyair nasional Korea. Demikianlah, Kim So-wol mendapat simpati besar dan karirnya mencapai puncaknya pada tahun 1925 lewat esei 'semangat syair'.
Penyair Jenius Yang Meninggal Dunia Dengan Usia Muda
Walaupun dia masuk Universitas Tokyo Jepang pada tahun 1923, dia terpaksa pulang ke Korea akibat gempa bumi yang menghantam Tokyo, sehingga membantu pengelolaan tambang kakek di kampung halaman. Namun, akibat bisnis tambang mengalami kebangkrutan, dia pindah rumah ke tempat tinggal mertuanya. Di sana, dia mengelola kantor cabang Harian Donga, namun mengalami kegagalan. Akhirnya Kim So-wol yang kehilangan semangat bunuh diri pada tanggal 24 Desember 1934. Demikianlah, Kim So-wol meninggal dunia dalam usia 32 tahun, namun 154 karya syair dan esei syairnya masih menghibur masyarakat Korea.
Source : kbsworld/IniSajaMo
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo