
Batu Peringatan Raja Jinheung Ditemukan
Kaligrafis Joseon terkenal Kim Jeong-hui yang mengibarkan namanya lewat teknik kaligrafi baru dinamakan 'Chusache' menemukan batu nisan kuno di gunung Bukhan pada tahun 1816.
Kim Jeong-hui yang memiliki kemampuan untuk mengkaji tulisan yang diukir pada besi atau batu menemukan sesuatu yang luar biasa pada batu nisan tersebut. Batu nisan itu tiada lain adalah batu peringatan Raja Jinheung yang dibuat untuk memperingati perebutan wilayah sekitar sungai Han yang diraih oleh Shilla pada tahun 555 dengan menaklukkan Baekje. Dengan kata lain, batu nisan itu adalah batu peringatan yang menunjukkan kejayaan kerajaan Shilla.
Naik Tahta Dalam Usia 7 Tahun
Raja Jinheung yang lahir pada tahun 534 adalah cucu Raja Jijeung dan putra Raja Galmun yang merupakan adik Raja Beopheung. Raja Beopheung wafat tanpa putra, sehingga Raja Jinheung naik tahta dalam usia 7 tahun. Namun, dia terlalu muda untuk memerintah, sehingga ibunya bertindak sebagai walinya selama 10 tahun.
Selama kurun waktu 10 tahun tersebut, ibunya mengangkat Isabu yang pernah menaklukkan pulau Usanguk sebagai menteri pertahanan untuk menguasai militer Shilla. Hal tersebut bermanfaat untuk menguatkan kekuasaan raja. Selain itu, dia mendirikan kuil Heungryun dan mengembangkan agama Buddha. Demikianlah, ibu Raja Jinheung menyediakan landasan pemerintahan, dan Raja Jinheung juga mulai memerintah secara independen saat dia berusia 18 tahun.
Raja Penakluk
Raja Jinheung menaruh perhatian pada wilayah. Pada tahun 551, Raja Jinheung bersekutu dengan Baekje untuk menyerang Goguryeo, sehingga Baekje menguasai wilayah di hilir sungai Han, dan Shilla menguasai wilayah di hulu sungai Han.
Dua tahun kemudian, Raja Jinheung menyerang Baekje. Goguryeo menganjurkan bahwa jika Shilla menyerang Baekje bersama Goguryeo tanpa menyerang lagi Goguryeo, pihak Goguryeo mengakui wilayah yang dikuasai oleh Shilla. Dengan persetujuan rahasia antara Silla dan Goguryeo, pasukan Shilla menyerang pasukan Baekje yang merasa kelelahan, dan akhirnya berhasil menguasai wilayah di hilir sungai Han yang pernah dikuasai oleh Baekje. Raja Seong dari Baekje yang merasa dikhianati oleh Shilla, menyerang Shilla pada tahun 554, tapi tertangkap di dalam suatu penyergapan yang dipimpin oleh Jenderal Shilla dan dibunuh. Demikianlah, Raja Jinheung terus menyebarluaskan wilayahnya, sampai-sampai menguasai Daegaya pada 6 tahun kemudian.
Menyediakan Landasan Untuk Penyatuan Tiga Kerajaan
Raja Jinheung memperoleh prestasi besar yang tidak kalah dengan Raja Gwangaeto dari Goguryeo dari segi penyebarluasan wilayah. Pada tahun 568, Raja Jinheung mendirikan monumen atau batu peringatan di wilayah kekuasaan baru.
Sementara, untuk memperoleh simpati rakyat, Raja Jinheung mengadakan pesta untuk memperingati dan menghibur arwah tentara yang gugur demi kerajaan. Pada tahun 574, dia mendirikan patung Buddha yang berukuran 5 meter di dalam kuil Hwangryong, dan melaksanakan sistem 'Hwarang' untuk membina kalangan muda yang memiliki pengetahuan dan seni bela diri pada tahun 576. Walaupun Raja Jinheung wafat pada tahun 576 dalam usia 43 tahun, Hwarang yang dia ciptakan berperan penting untuk menyatukan tiga kerajaan. Dengan demikian, Raja Jinheung dikenang sebagai pemimpin yang menyediakan landasan untuk penyatuan tiga kerajaan.
Source :kbsworld
Shared By IniSajaMo
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo