
Wanita Dapat Menjadi Orang Suci
Pada era Joseon yang dikuasai oleh Konfusianisme yang mementingkan kalangan laki-laki, para wanita tidak mampu menunjukkan kehebatannya, karena diskriminasi antara wanita dan laki-laki, walaupun seorang wanita memiliki kemampuan luar biasa. Namun demikian, ada sejumlah wanita yang rela menunjukkan kemampuanya. Diantaranya, sarjana Im Yunjidang meloncat untuk mewujudkan cita-citanya dengan berupaya mengatasi keterbatasan sebagai wanita.
Kehidupan Im Yunjidang Yang Cemerlang Di Dalam Sejarah Wanita Korea
Im Yunjidang lahir di Yangseong, Gyeonggi pada tahun 1721, dan setelah ayahnya meninggal dunia, dia pindah ke Okwah di Chehongju bersama keluarganya. Di wilayah tersebut, Im Yunjidang mendapat pendidikan mengenai konfusianisme dan buku klasik Cina dibawah kakak laki-laki kedua yang kemudian menjadi sarjana Neo Konfusianisme, Im Seong-ju. Im Yunjidang menunjukkan bakat luar biasa di bidang ilmu, sehingga saudara-saudara lainnya merasa sayang terhadap Im Yunjidang yang lahir sebagai wanita.
Nama penanya Yunjidang dibuat oleh kakak laki-laki Im Seong-ju. Yunjidang diambil dari ungkapan 'menghormati Tairen dan Taisi.' Tairen dan Taisi merupakan ibu dan isteri dari raja Wen pada dinasti Cina yang dianggap sebagai wanita yang sangat ideal. Namun demikian, kehidupan pribadinya sebagai wanita terasa sangat sepi.
Im Yunjidang menikah dengan Shin Gwang-yu pada tahun 1739. Dan setelah rumah tangga mereka berjalan selama 8 tahun, suaminya meninggal dunia akibat penyakit. Anak yang duimilikinya juga meninggal dunia, sehingga dia mengadopsi anak dari adik suaminya, namun anak itu juga mendahuluinya. Oleh karena itu, Im Yunjidang memusatkan pikirannya pada ilmu.
Memusatkan Pikiran Pada Ilmu Sepanjang Hidupnya
Im Yunjidang memusatkan pikiran untuk menimba ilmu dan ajaran Neo Konfusianisme. Dia mempelajari 'prinsip mengenai sifat asli dari angkasa udara dan manusia', dan 'masalah mengenai tabiat manusia' secara logika. Selain pengetahuan tinggi dari segi lilmu, Im Yunjidang mendapat pujian tertinggi dari segi moral dan manusiawi, namun dia meninggal dunia pada tahun 1793 dalam usia 73 tahun. 3 tahun kemudian setelah dia meninggal dunia, adiknya Im Jeong-ju dan adik laki-laki dari suaminya Shin Gwang-u menerbitkan buku dengan judul 'Tulisan Yang DItinggalkan Oleh Yunjidang' yang mengandung segala pandangan Im Yunjidang mengenai ilmu.
Tulisan Yang Ditinggalkan Oleh Yunjidang
Jika mencermati buku 'Tulisan Yang Ditinggalkan Oleh Yunjidang', buku itu mengandung hasil kajian buku klasik konfusianisme, komentar terhadap tokoh-tokoh sejarah Cina, karya syair yang bernuansa mendidik, dll. Segala tulisan di dalam buku itu diakui tinggi dari segi logika dan sastra.
Khususnya, Im Yunjidang berpikir siapa saja dapat menjadi orang suci jika mereka memperbaiki sifatnya dari manusia. Dari segi itu, Im Yunjidang tidak membedakan sifat wanita dan laki-laki, melainkan menunjukkan pandangan yang sangat progresif mengenai hubungan antara wanita dan laki-laki, yaitu hubungan yang saling mengisi. Walaupun kebanyakan wanita intelektual membuat tulisan dengan tema kesengsaraan kehidupan atau cinta, Im Yunjidang meninggalkan tulisan yang berisi mengenai buku konfusianisme atau pandangan pribadinya. Demikianlah, Im Yunjidang yang memusatkan pikirannya pada ilmu sepanjang hidupnya walaupun dia merasa sepi sebagai seorang wanita saja. Dia adalah bintang besar dalam sejarah wanita Korea.
Source: kbsworld
Shared by IniSajaMo
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo