
Pemain Hwang Byeong-gi memiliki latar belakang khusus, karena ia mengambil jurusan hukum di Universitas Nasional Seoul yang paling bergengsi di Korea.
Mendapatkan gelar sarjana hukum menjamin kesuksesan sosial, sementara pemain Gayageum dipandang rendah sebagai badut berstatus rendah. Kalau dipandang positif, mereka hanya dianggap sekaum yang perlu dilindungi untuk mewariskan kebudayaan tradisional kepada generasi mendatang dan tidak pernah diperlakukan sebagai seorang seniman. Maka, Hwang Byeong-gi memusatkan perhatian publik, karena dia memutuskan untuk menjadi pemain Gayageum bukan hakim atau jaksa.
Hwang Byeong-gi untuk pertama kalinya melihat Gayageum pada masa perang Korea. Ketika mengungsi ke kota Busan, Hwang Byeong-gi yang sedang duduk di bangku SMP sempat menjumpai seorang guru Gayageum di sebuah institut tari tradisional. Meskipun orangtuanya tidak setuju akan anaknya menekuni instrumen musik Korea, tapi dia membujuk mereka dengan memberi contoh bahwa Einstein menyukai biola.
Akhirnya, dia mendapat izin dari orangtuanya untuk mempelajari instrumen dengan syarat, pelajarannya tidak terganggu. Pada masa mahasiswa di fakultas hukum, dia memenangkan hadiah pertama di Kontes Gugak Nasional yang diselenggarakan KBS. Berkat kemenangannya itu, dia ditawarkan oleh profesor Hyeon Je-myeong, dekan fakultas musik Universitas Nasional Seoul untuk mengajar di fakultas musik, begitu lulus program studi S1. Hwang Byeong-gi menerima tawaran itu dan menjalankan karirnya sebagai pemain secara stabil dan unik.
Pada tahun 1963, Hwang byeong-gi menciptakan musik permainan Gayageum yang pertama, yaitu . Musik itu terdiri dari empat bagian -Dedaunan hijau, Burung cuko, Hujan, dan Cahaya bulan. Musik itu menggambarkan alam dengan baik sekali.
Musik yang diciptakan Hwang Byeong-gi itu tidak semuanya terdiri atas melodi liris dan indah seperti itu. Dia pernah menghasilkan karya permainan Gayageum eksperimental dengan judul pada pertengahan tahun 1970-an. Musik itu dimainkan dengan cara Gayageum digesek atau dipukul dengan gesekan Ajaeng dan bahkan disertai juga suara wanita yang seram.
Baru-baru ini, musik tersebut telah dipakai untuk musik latar belakang program game komputer dan terlibat dengan satu rumor yang tersebar antara kaum remaja bahwa seseorang mendengarkan musik itu tiga kali akan mati. Ironisnya rumor tersebut menjadi satu kesempatan untuk musik Hwang Byeong-gi menarik perhatian kalangan remaja. Kadang-kadang dia membuat musik untuk permainan instrumen Geomungo atau Daegeum. Meskipun dimainkan dengan alat musik tradisional apapun, kebanyakan karya musik Hwang Byeong-gi menggambarkan karya lukis kuno, sejarah atau keindahan alam negerinya. Hal itu didasarkan pada keyakinannya bahwa percobaan modern pun dapat membuahkan hasil jika memiliki sejarah yang berakar kuat. Musisi Gugak generasi baru harus belajar semangat itu.
Source : kbsworld / IniSajaMo
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo