
Pada tahun 879, raja Heongang dari Shilla pergi ke Gaeunpo di Ulsan untuk bermain, namun suasana di sekitarnya secara tiba-tiba menjadi gelap karena ditutupi dengan awan dan kabut. Seorang pembantunya mengatakan bahwa itu dilakukan oleh raja naga di laut Timur, sehingga harus diselesaikan dengan kebaikan. Oleh karena itu, raja memberi perintah untuk mendirikan sebuah kuil di sana untuk naga. Setelah itu, naga memuji-muji kebaikan raja Heongang dengan menari bersama 7 orang putranya. Diantara 7 orang putra dari naga itu, seorang putra mengikuti raja Heongang ke Shilla, dan namanya adalah Cheoyong. Cheoyong memperoleh jabatan di Shilla dan menikah dengan wanita yang cantik. Pada malam hari, dia menikmati lagu dan menari-nari di jalan. Namun, pada suatu hari, saat dia pulang ke rumah, dia mendapati hantu yang menularkan penyakit tidur di sisi isterinya. Namun, Cheoyong tidak memarahi hantu jahat itu, melainkan melantunkan lagu yang berisi kondisi yang tengah dia hadapi sambil menari. Hantu jahat itu terkagum-kagum pada keberanian dan kebaikan hati Cheoyong, sehingga dia meminta maaf kepadanya dengan bertekuk lutut dan juga berjanji dia tidak akan tampil di tempat yang ada wajah Cheoyong. Setelah itu, masyarakat menempelkan gambar wajah Cheoyong di depan pintu gerbang untuk mengusir hantu.
‘Lagu Cheoyong’ yang pernah dinyanyikan oleh Cheoyong dicatat sebagai lagu khas kerajaan Shilla, Hyangga, dan masih dilantunkan oleh masyarakat di era ini dengan beraneka macam bentuknya. Seperti lagunya, Cheoyong juga dianggap sebagai dewa yang mengusir hantu. Rakyat-rakyat biasa menempelkan gambar wajah Cheoyong di pintu gerbang, namun di dalam istana, dansa dari Cheoyong dipertunjukkan pada hari pesta atau hari terakhir dalam satu tahun untuk mengusir hantu.
Leluhur Korea cenderung menyambungkan segala jenis urusan dengan hantu atau dewa. Jika urusan yang baik terjadi, mereka mempercayai bahwa hal itu dibantu oleh dewa atau nenek moyang, dan jika ada urusan yang tidak baik, hal itu terjadi akibat kenakalan dari hantu. Memang, hal tersebut mungkin dianggap sebagai tindakan orang-orang yang tidak memahami alam, namun di sisi lain, dianggap sebagai kegiatan yang tidak ingin melanggar prinsip atau ketertiban alam.
Kegiatan untuk mengusir hantu dianggap sebagai hal yang terpenting bagi masyarakat, namun khususnya kegiatan seperti itu banyak dilaksanakan menjelang pergantian tahun atau saat ada kecemasan di rumah tangga. Ada yang mengadakan upacara keselamatan saat merasa serius, dan juga ada yang mengundang orang buta atau biksu untuk membacakan kitab suci. Ada lagu berjudul ‘Pagyeong’, yaitu pembacaan kitab suci yang dilakukan oleh orang buta di wilayah propinsi Hwanghae dan Pyeongan.
Jika mencermati isi lagunya, isinya meminta kepada beraneka macam hantu untuk pergi menjauh ke dunianya masing-masing setelah makan sajian dengan kenyang. Itulah ketulusan hati dari leluhur yang menghargai masing-masing hantu, terlepas dari ada atau tidaknya keberadaan hantu. Sementara itu, ada makhluk gaib yang dinamakan ‘Dokkaebi’. Biasanya, hantu dianggap sebagai roh dari manusia, namun Dokkaebi dipercayai sebagai transformasi dari objek mati, bukan roh seseorang yang sudah meninggal. Karena kenakalan, Dokkaebi mengganggu orang atau menimbulkan bencana, namun jika bergaul dengannya dengan akrab, mereka juga bisa memberikan kekayaan
Source :kbsworld
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo