
Beberapa tahun lalu, sebuah film independen pernah menghanyutkan hati masyarakat Korea, dengan sebuah film berjudul 'Wonang Sori' atau 'Bunyi Lonceng Sapi'. Pemeran utama film tersebut adalah petani berusia 80-an tahun yang bermarga Choi, dan seekor sapi yang mendampinginya selama 40 tahun.
Wonang berarti lonceng untuk sapi. Sapi bukan hewan yang umum bagi petani, karena sapi dirasakan terlalu berharga jika harus menggarap sawah atau ladang, dan membawa beban yang berat. Oleh karena itu, sapi dianggap sebagai anggota keluarga. Kakek Choi dan sapi Nureongi adalah teman yang saling berdampingan selama 40 tahun. Walaupun kakek Choi tidak mampu mendengar dengan baik, namun dia sangat sensitif terhadap bunyi lonceng sapi. Walaupun kakinya sakit, namun dia tiap hari mendaki gunung untuk membawakan rumput-rumput ke sapinya. Sebenarnya, sapi itu sudah cukup tua karena usianya melebihi usia rata-rata sapi 15 tahun, namun dia rela membawa pikulan kayu yang berat dan menggarap ladang jika dibawa kakek Choi.
Memang, belakangan ini, banyak hal yang menarik minat kita pada sesuatu yang besar, cepat dan mewah, namun pemandangan keheningan di kampung halaman seperti itu sangat menghanyutkan dan membuat terharu seperti dalam film 'Wonang Sori'.
Walaupun kakek Choi dan sapi Nureongi telah meninggal dunia, namun masih ada petani-petani yang menggarap sawah dan ladang di desa-desa pegunungan dengan memanfaatkan sapi. Katanya, kegiatan menggarap tanah dengan sapi di Korea ini dilakukan menjelang abad ke-4 setelah masehi. Karena itu, kemampuan produksinya meningkat karena sapi dapat menggarap tanah dengan lebih mendalam.
Karenanya, setelah itu sapi dianggap menjadi harta yang sangat berharga bagi petani. Walaupun ada banyak perangkat mesin yang lebih kuat dan nyaman, namun ada penyebab khusus kenapa sapi masih dimanfaatkan di desa pegunungan sampai saat ini. Mesin sulit dibawa ke ladang yang miring di tengah gunung, namun sapi mampu bergerak dengan seimbang di daerah seperti itu. Katanya, komunikasi emosional antara sapi dan pembawa sapi sangat diperlukan untuk menggerakan sapi dengan baik. Untuk itu, para petani bernyanyi saat bekerja. Jika seekor sapi menggarap ladang, itu dijuluki sebagai Hori, dan jika dua ekor sapi menggarap, itu disebut sebagai Geyori. Pada kegiatan Gyeori, sapi di kiri disebut 'Anso', dan sapi di kanan 'Maraso'. Bunyi dari petani itu terasa seperti sedang mengasuh anak-anaknya.
Jika tengah memetik rumput atau sayuran pada musim semi di gunung saat siang hari dengan terpaan sinar mentari cerah sambil mendengarkan nyanyian penggarap sawah dari kakek dan bunyi lonceng sapi, itu sudah cukup menjadi penenang jiwa untuk mengobati hati. Diantara bunyi komunikasi dengan hewan saat bertani, ada bunyi-bunyian khusus di pulau Jeju saat menginjak-injakkan kaki di ladang.
Biasanya, pulau Jeju dijuluki sebagai Samdado yang berarti 'tiga hal melimpah', yaitu batu, angin, dan wanita. Oleh karena itu, kegiatan bertani juga dilakukan oleh wanita. Ada banyak batu di tanah ladang. Mereka memilih satu demi satu dan menumpuk batu-batu di sekitar ladang untuk mencegah angin. Namun, biji-bijian tetap terkena hembusan angin, sehingga setelah mereka menaburnya di ladang, mereka memasukkan kuda ke tengah ladang untuk menginjak-injakkan kaki agar biji-bijian itu masuk lebih dalam.
Itulah pemandangan khas yang dapat disaksikan di pulau Jeju. Nyanyian itu serasi dengan dialek dan irama khas Jeju. Memang, pada saat ini, dialek-dialek sudah semakin hilang, sehingga orang-orang yang mengingat nyanyian itu sudah tidak begitu banyak. Namun, meneruskan nyanyian pertanian kuno adalah salah satu cara mengingat cara-cara bertani dan kehidupan masa lalu.
Source :kbsworld
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo