
Ada pepatah mengatakan 'ingin berjudi di pacuan kuda jika naik kudanya.' Itu menunjukkan betapa besarnya rasa tamak manusia. Leluhur Korea mengatakan harus merasa dirinya cukup dengan mengurangi rasa tamak, namun hal itu tidaklah begitu mudah bagi kita semua. Ada banyak rasa tamak pada makanan, seksualitas, tidur, kekayaan, reputasi sosial, kepemilikan, dll. Katanya, diantaranya, rasa tamak yang sulit dihilangkan adalah rasa tamak pada reputasi sosial. Para sarjana yang menjalani hidupnya di desa pegunungan dengan membuang posisi jabatannya yang tinggi dan para pendeta yang memusatkan pikirannya untuk mencerahkan jiwanya, merasa marah ketika banyak orang meragukan kehidupan mereka yang murni itu. Di dalam Pansori Sugungga, kura-kura yang membawa kelinci ke dalam laut juga menggunakan rasa tamak reputasi sosial untuk membujuk kelinci. Kura-kura mengatakan kelinci selalu dikejar oleh hewan-hewan lain seperti harimau. Tapi kura-kura merayu kelinci bahwa jika di laut, dia mendapat kehormatan dari ikan-ikan. Akhirnya, kelinci yang tergoda itu mengalami krisis kehilangan jiwanya.
Di dalam pansori yang diciptakan di dalam kehidupan rakyat jelata, terdapat bagian yang memperingatkan rasa tamak yang berlebihan. Rasa tamak yang dimiliki rakyat jelata yang miskin adalah menjalani kehidupan tanpa merasa lapar. Seorang tokoh yang menghancurkan dirinya karena rasa tamak adalah Nolbo yang terdapat dalam Pansori Heungboga. Heungbo yang miskin menyelamatkan jiwa burung layang-layang dan mendapatkan sebuah biji labu dari burung layang-layang. Setelah itu dia menjadi kaya karena ada banyak kekayaan di dalam labu itu. Setelah Nolbo mendengarkan kisah adiknya, ia ingin menjadi orang kaya yang lebih besar dengan cara yang mudah itu. Namun, dia tidak bisa menemukan burung layang-layang yang menghadapi masalah, sehingga dia sengaja mematah kaki burung layang-layang untuk mengobatinya. Nolbo juga mendapatkan biji labu dari burung layang-layang, namun yang didapat dari dalam labu itu hanyalah seorang kakek, bukan kekayaan. Bahkan, kakek itu meminta uang kepada Nolbo dengan menyerahkan kantong yang kecil. Dia mengatakan dia akan meninggalkan rumah Nolbo itu jika kantongnya dipenuhi. Nolbo setuju memenuhi kantong itu, namun kantong itu sulit dipenuhi karena segera hilang jika penuh.
Kantong yang bisa menghilangkan sesuatu yang dipenuhi termasuk uang atau beras.... Barangkali, itu adalah barang yang melambangkan rasa tamak Nolbo. Nolbo yang memiliki banyak rasa tamak bahkan terasa semakin menjadi sangat bodoh karena tidak mau introspeksi diri. Dia terus ingin membuka labu lainnya, dan akhirnya dia mengalami nasib malang. Selain rasa tamak pribadi, rasa tamak dari orang yang bertanggung jawab dalam urusan negara menimbulkan bencana yang lebih besar. Cao cao yang memegang kekuasan tertinggi di negara ingin merampok negara Wu di bagian timur sungai. Untuk merebut negara Wu, dia menempatkan banyak kapal dan anggota militer di sungai yang besar itu. Namun, Cao cao yang ahli berperang di daratan tidak bernah berperang di sungai. Zhu Ge Liang yang mengetahui hal tersebut menipu Cao cao. Akhirnya, rasa tamak Cao Cao membuat banyak kapal terbakar dan anggota militer yang dibawa ke medan perang banyak yang meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kematian anggota militer yang adalah putra dari seseorang dan ayah dari seseorang.
source ;kbs
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo