
Setiap yang dilahirkan dan memiliki jiwa pasti akan mati kapan saja. Itulah prinsip hukum alam. Namun, jiwa manusia berbeda dengan jiwa makhluk hidup lainnya karena manusia memberi makna dan kesantunan atas kematian itu. Cara melakukan ritual juga berbeda bagi tiap daerah dan budaya. Misalnya, ritual shamanisme 'Ssitgimgut' atau upacara pembersihan jiwa orang yang sudah meninggal yang masih diteruskan di pulau Jindo di Jeolla Selatan memiliki makna agar menghilangkan keluh kesah dari orang mati dan menenangkannya di dunia bawah.
Upacara yang serasi dengan musik, tarian, dan nyanyian yang memiliki arti seni diwarisi hingga sekarang, sehingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nonbendawi Korea nomor ke-72. Walaupun kematian ingin dihindari siapa pun, namun ketika kita menerima kematian itu dengan benar, kehidupan kita juga akan menjadi stabil. Oleh karena itu, upacara 'Ssitgimgut' yang dilaksanakan bagi orang yang sudah meninggal, namun sebenarnya, juga menjadi upacara bagi semua orang hidup yang harus menjalani hidupnya di masa depan.
Biasanya, air memiliki makna 'kebersihan.' Ibu-ibu di masa lalu mendoakan kesehatan dan keselamatan keluarga dengan menyajikan semangkuk air putih di tempat tempayan pada dini hari. Di dalam agama Buddha dan ritual shamanisme, penggunaan air putih itu adalah penting. Di dalam agama Kristen, juga ada upacara baptis. Penganut agama Islam harus mencuci wajah, tangan dan kaki dengan air bersih sebelum sholat. Hal itu mengandung makna mereka tidak hanya mencuci tubuh mereka, tetapi juga membersihkan jiwa dan hati. Oleh karena itu, pembersihan dengan air berarti aku terlahir baru dengan membuang aku yang sudah kotor. Dari sisi itu, air juga berarti 'memasuki dunia yang baru.' Di dalam mitos dunia Oriental dan Timur, dunia bawah digambarkan sebagai tempat yang harus dilalui dengan melewati sungai dengan naik kapal.
Di dalam ritual 'Ssitgimgut', dukun membersihkan benda yang dinamakan 'Yeongdon' dengan air yang melambangkan jiwa dari orang yang meninggal, dan meletakkannya di kapal bernama 'Banya-yong-seon' yang diletakkan di kain putih yang melambangkan jalan menuju ke dunia bawah. Kapal 'banya-yong-seon' dipengaruhi oleh agama Buddha. 'Banya' berarti 'kebijaksanaan' mengandung makna berjalan dengan bijaksana menuju dunia bawah yang gelap. 'Yong' yang berarti 'naga' berperan melindungi kapal.
Biasanya, kita memiliki rasa kasih sayang terhadap orang yang kita sukai, namun kadang juga ada rasa kasih sayang terhadap orang yang dibenci karena kasih sayang semakin tertumpuk walaupun membenci seseorang. Oleh karena itu, jika kita mendengar seseorang yang kita benci meninggal dunia, hal itu mengganggu perasaan kita dan menyesalinya karena tidak memperlakukannya dengan lebih baik. Memang, jika orang yang meninggal adalah anggota keluarga atau teman kita, rasa penyesalan yang tidak diekspresikan lewat rasa kasih sayang atau permintaan maaf kepadanya terasa lebih menyakitkan hati.
Demikianlah, 'Ssitgimgut' memiliki makna besar dalam menghibur orang-orang yang ditinggalkan. Ketika 'Ssitgimgut' dilaksanakan, dukun menggerakkan hati orang-orang dengan nyanyian dan tarian. Irama lagu yang menghanyutkan hati kita membuat siapa pun bisa saja meneteskan air mata. Ketika dukun melontarkan pertanyaan tentang apa yang diinginkan sebagai pengganti dari orang yang meninggal ini, orang-orang yang telah membuka hati dengan air mata mengungkapkan permintaan maaf dan mendoakan ketenangan jiwanya.
Bagi para korban bencana feri Sewol, anggota keluarganya, dan seluruh masyarakat Korea Selatan yang terpaksa hanya bisa menyaksikan tampilan mereka di media, nampaknya 'Ssitgimgut' sangat diperlukan.
Source:kbsworld
Comments
Post a Comment
Terima Kasih sudah memberikan komentar dihalaman IniSajaMo